Sejarah Desa Padangbulia

  • Admin Sukasada
  • 26 September 2018
  • Dibaca: 271 Pengunjung

Berdasarkan Lontar Dharma Ulangun, Lontar Dalem Madura dan Lontar Jaya Purana, bahwa sebelum daerah Den Bukit di kuasai oleh Kolonial Belanda yaitu tahun 1949 Masehi, desa Padangbulia adalah merupakan suatu pusat kerajaan Den Bukit, yang didirikan oleh Putra ke II Raja Bali Kuno Dinasti Singamandawa yang berstana di Pulaki, Putra Raja tersebut bernama Ida Gusti Den Bukit atau Ida Gusti Made Bukit.
Kerajaan ini mulai ditata berdirinya pada tahun I Caka 1057 atau 1135 Masehi, yang didirikan oleh Beliau beserta pengikutnya bersama-sama dengan penduduk asli/Pasek di Desa ini
Daerah Padangbulia ini dahulu disebut Desa Tani Agung yang bernama Purbhakara. Penduduk asli Purbhakara sudah mempunyai kepercayaan yaitu meyembah arca manic yang merupakan pelinggih roh leluhur yang diyakini dapat melindungi mereka.
Kepercayaan semacam ini oleh ahli sejarah yang bernama N.D Pandit Shastri disebut Animisma. Kerajaan ini dibentuk karena Desa Tani agung ini mengalami kehancuran yang yang bersamaan dengan hancurnya Arca Manik yang dipercaya sebagai Dewa di desa ini. Akibat kehancuran yang menimpa desa inilah Putra kedua Raja Dinasthi Singhamandawa yang beristana di Pulaki, karena merasa iba ingin berkunjung Ke Desa Tani Agung (Purbakara)
Dengan dibekali banyak senjata pusaka oleh ayahanda yaitu sang Raja, lalu beliau meninggalkan istana Pulaki beserta para pengikutnya dan angkatan perang / papadu yang bernama Bendesa Pasek Macan Gading. Setelah tiba di Desa Tani Agung benarlah bahwa desa tersebut kondisinya memprihatinkan. Lalu dibangunlah pemerintah baru dengan bergotong royong, bahu membahu secara bersama-sama. Pendiri pemerintah kerajaan Den Bukit ini berpusat di Desa Padangbulia sekarang menjadi Krama Desa Marep, sedangkan para warga yang datang belakangan setelah berdirinya Kerajaan ini adalah menjadi karma Desa Sampingan. Menurut kelompok pengkajian budaya Bali Utara (Noet Balines Study Grup) yaitu, Drs I Gusti Ketut Simba dan Dr Soegianto Sastrosdiwiryo mengatakan bahwa dilihat dari struktur palinggih yang terdapat dipura Desa Padangbulia, maka diyakini Desa Padangbulia adalah dahulu merupakan bekas pusat kerajaan dan puri agung jero gede padangbulia adalah pusat istana raja tersebut, pada tahun 1177 masehi ada tujuh kerajaan di Bali Dwipa yang semuanya merupakan keturunan Raja Singhamandawa yang disebut Sapta Nagara, tentang keberadaan kerajaan ini juga telah diteliti secara mendasar oleh para ahli sejarah lainnya yaitu Dr Stutterhim, Dr L.C Damais dan DR Goris.
Dalam lontar Dalem Madura menyebutkan bahwa setelah Raja tersebut turun-temurun sampai keturunan kalmia, maka mempunyai tiga orang putra yaitu yang pertama bernama Ida Ratu Kaler atau juga Ida I Gusti Kaler, yang kedua bernama Ida I Gusti Den Bukit atau juga disebut Ida Gusti Made Bukit dan yang ketiga bernama Ida I Gusti Umabiaan atau disebut Ida Gusti Nyoman Gunung, Ida Ratu Kaler berstana di Mayong bergelar Ida I Gusti Jero Gede Mayong. Ida I Gusti Den Bukit beristana di Desa Tani Agung yang bernama Purbhakara, bergelar Ida I Gusti Jero Gede Umajero merupakan catur Desa yang mewilayahi Tamblingan, Desa Gobleg, Desa Munduk, Desa Gesing dan Desa Uma Jero.
I Gusti Jero Gede adalah terdiri dari kata I Gusti dan Jero Gede. I Gusti adalah title penghormatan tertinggi yang dibawa dari jawa, title ini biasanya diperuntukkan kepada I Gusti Prabu, I Gusti Allah dan lain-lain sedangkan Jero Gede merupakan bahasa Bali Kuno yang artinya Anak Agung atau Dalem, kalau ditelusuri lebih lanjut bahwa tempat tinggal atau istana ketiga putra raja dinasti sanghamandawa itu adalah merupakan bagian wilayah palemeng aji panjang. Raja Ida I Gusti Den Bukit tiada beda dengan leluhur beliau yaitu ingin selalu batinnya dengan sembahyang embang, merintis pemerintahan baru yang dibentuknya itu dengan diawali membuat pelinggih para kawitan pendiri pemerintahan kerajaan Den Bukit, dengan istana kerajaan bernama Puri Agung jero gede Padangbulia. Beliau bersama kai tangfan penduduk setempat maupun rakyatanya mengadakan upacara seperti upacara sarin tahun upacara penyucian tri hita karana yang sesuai dengan situasi kondisi setempat sebagai desa tua, berdasarkan dengan isi beberapa lontar diantaranya lontar coak, sri teka, jayeng lange, jaya purana, darma ulangun, brahma sapa, dewa tatwa dan lain-lain yang semuanya itu merupakan perwujudan kerangka dasar agama hindu yaitu tatwa, susila dan upakara. Oleh karena itu beliau atau kerajaannya diberi banyak nama oleh para orang bijaksana seperti gelar Ida I Gusti Jro Gede Padangbulia. Padangbulia adalah berasal dari kata padang dan bulia, dimana Padang artinya terang atau cahaya dan bulia berasal dari kata mulia, jadi padangbulia arti sesungguhnya adalah cahaya atau surya yang mulia, sedangkan surya pada umumnya diidentikan dengan raja selain itu juga disebut Prabakula, dimana praba artinya sinar atau surya sedangkan kula adalah kaula jadi prabakula adalah dimaksudkan sesuatu kerajaan yang dibangun bersama-sama yaitu raja dan rakyat, atau menganut konsep Rwa Binreda yaitu purusa. Perdana atau akasa dan pertiwi. Widarbasari juga terdiri dari kata Widarba yang artinya padang atau sinar dan sari artinya inti atau pusat, jadi widarbasari mengandung arti pusat sinar atau pusat kerajaan atau kemungkinan juga mengandung arti bahwa widarba sama dengan padang / padi dan sari sama dengan hasil. Ari wita artinya adalah ari sama dengan mempunyai sedangkan wita barang-barang yang berharga atau utama. Barang-barang utama yang dimaksud kemungkinan ada kaitannya dengan senjata-senjata pusaka raja den bukit yang tersimpan dipejenengan puri agung den bukit jro gede padangbulia, raja ida I gusti den bukit yang bergelar ida I gusti jero gede padangbulia, didalam melakukan upacara itu perlu efisiensi waktu dan tenaga untuk itu semua batas-batas wilayah tersebut dibuatkan pura pasimpangan sebagai penyawangan dipusat kota kerajaan den bukit yaitu: – Pura Pucak Manggu sebagai batas selatan terletak diwilayah gitgit disebut dengan pura dukuh, akan tetapi sejak tahun caka 1555 pucak manggu menjadi kekuasaan mengwi dan menjadi batas kabupaten buleleng. – Cekik sebagai batas barat yang sekarang pura cekik, – Pura bukit Sinunggal dan pura dalem tamblang tangkid, dibuatkan pura tamblang / Pura Keladian, -Laut dibuatkan Pura Mahayu, – Pusat adalah kota kerajaan, Pura Desan
Danau Bulian adalah berasal dari kata embung bulian dimana embung artinya telaga atau danau dan bulia adalah diambil dari kata keterangan wilayah yaitu wilayah kerajaan den bukit yang bergelar Ida I Gusti Jero Gede Padangbulia. Lama kelamaan dari keterangan wilayah menjadi keterangan tempat, dari perubahan kata keterangan itulah lalu dari kata bulia menjadi bulian. Selanjutnya disebut pura-pura diatas dijadikan penyawangan dan tidak mengurangi arti atau fungsinya. Pada saat upacara sarin tahun, yang jatuh pada purnama sasih kapat, dalam melakukan upacara ini semua pura katuran banten sesuai masing-masing. Pura pucak Manggu sebagai hulu maka di Pura Dukuh katurang banten dengan sarana kepala babi, cekik sebagai tangan kiri sarana pala kiri, Pura Tamblang Tangkid dan Pura Bukid Sinunggal sebagai tangan kanan katurang banten pala kanan/ pala tengen, laut Pura-pura Mahayu sebagai pantat katurang dengan saranan pantat lengkap dengan ekor babi, dan Pura Desa serta Pura Dalem kedua pura tersebut katurang sarana perut babi, dengan upacara tersebut diyakiniseluruh den bukit selalu selamat, aman damai dan sejahtera. Bahkan pada tahun I caka 1265 atau 1343 masehi Raja Asta Sura Ratna Bumubanten atau Gajah Wakra atau juga yang dikenal dengan nama Sri Raja Tapulung dengan maha patih Kebo Iwa bersama keluarganya Arya Karang Buncing datang ke kerajaan Den Bukit bertujuan untuk bersama-sama mendekatkan diri kepada Sang Hyang Embang, mendoakan agar Bali tetap aman dan damai. Kemudian Sri Raja Tapaulung pergi menemui Raja Ida I Gusti Agung Gede Suniata yaitu raka ke IV Kerajaan Den Bukit di padukuhannya yang bernama Wanatambara. Kebesaran nama kerajaan Singhamandawa tersebut tidak diragukan lagi karena lebih dari 30 buah prasasti yang ditinggalkannya. Sri Wira Dalem Keshari Warmadewa menurunkan raja dinasti Warmadewa dan keturunannya yang terakhir Asta Sura Ratna Bumibanten atau Sri Raja Tapaulung maka sejalan dengan perkembangan sejarah terjadi perubahan nama dari wilayah palemang aji panjang menjadi wilayah Den Bukit. Hal ini disebabkan karena setiap orang dari wilayah kerajaan Den Bukit yang mengadakan interaksi keluar utamanya perdagangan/barter banyak menyebutkan identitasnya, bahwa dirinya dari kerajaan Den Bukit, begitu pula halnya orang-orang dari lian Negara/ Kerajaan yang ada di Bali membawa dagangnya dengan menyebut kewilayahan kerajaan Den Bukit, sehingga nama pelemeng aji panjang semakin sirna ditelan jaman demikian juga halnya dari beberapa nama yang diberikan oleh para orang bijak hanya nama orang Padangbulia yang terkenal dikalangan banyak orang dan terus bertahan hingga kini.

Sumber : https://padangbulia.wordpress.com/sejarah/

Share Post :