SEJARAH DESA TEGALLINGGAH

  • Admin Sukasada
  • 28 September 2018
  • Dibaca: 57 Pengunjung
Desa Tegallinggah adalah salah satu Desa di wilayah Kecamatan Sukasada Kabupaten Buleleng, Penduduk Desa  beragama Hindu dan Islam dengan perbandingan 55 : 45.Desa Tegallinggah mempunyai lima Dusun yaitu Dusun Tegallinggah , Mundukkunci,Gunungsari,Bukitsari dan Batucandi. Tegallinggah berarti suatu tanah kering atau lading kering yang sangat luas . Bermula dari pendatang dari Bugis dan Palembang yang ahkirnya berlabuh di Pantai Happy di Desa Tukadmungga. Peninggalan mereka dapat di lihat sampai sekarang dengan adanya kuburan Islam di Desa Tukad Mungga. Karena perkembangan jaman dan pendatang ini terdesak oleh penduduk setempat maka mereka keselatan  dengan tujuan mencari kayu bakar dan rumput. Mereka ahkirnya merasa kerasan tinggal di selatan dan mendirikan pondok – pondok kecil  di tanah kering yang luas ini (Tegalinggah) kemudian datang penduduk dari tenganan, Banjar, Depehe, Paketan Tukadmungga banjar tegal dan lain-lain yang menempati daerah ini.Walaupun mereka berbeda agama tetapi mereka hidup dengan damai dan saling hormat-menghormati satu sama lainnya. Di Dusun Tegalinggah mata pencaharian penduduknya sebagian besar  petani, berdagang, berternak dan buruh tukang.Di Dusun ini terdapat dua subak  sawah yaitu subak Anyar dan subak Tegalinggah maasing – masing mempunyai tempat ibadah.
Sebelum tahun 1965 Desa Tegallinggah terdiri dari  2 Perbekel (Kepala Desa) yaitu Perbekel Tegallinggah dan perbekel Tegallinggah Bali. Atas musyawarah tokoh-tokoh masyarakat, maka pada tahun 1966 dua Perbekel tersebut dijadikan satu yaitu Perbekel Desa Tegallinggah dan para tokoh masyarakat sepakat mengadakan musyawarah yang merupakat suatu perjanjian (Konsensus) apabila Perbekelnya agama Hindu maka juru tulis /sekretarisnya harus dari orang yang beragama islam dan sebaliknya. Mulai Tahun 1977 perjanjian tersebut ada yang melanggarnya karena pemilihan Perbekel sama-sama mencalonkan. Namun hal itu tidak mempengaruhi kerukunan hidup antar umat beragama di sini dan Dusun Mundukkunci adalah Dusun yang wilayahnya berbukit-bukit (banyak penduduk )dan disela-sela bukit tersebut banyak tumbuh-tumbuhan kunci yang biasa digunakan untuk ramuan obat (kesehatan ). Di Dusun ini ada sebuah Desa Adat Mundukkunci yang lengkap dengan pura Kahyangan Tiga dan satu subak sawah yaitu Subak Wingin.
Sehubung dengan jumlah penduduk Banjar Dinas Mundukkunci sangat padat dan untuk mempermudah pelayanan masyarakat maka pada Tahun 2004 Banjar Dinas Mundukkunci dimekarkan menjadi tiga Banjar Dinas yaitu : Banjar Dinas Mundukkunci, Bukitsari, dan Banjar Dinas Batucandi. Letak wilayah Banjr Dinas Bukitsari berada disebelah selatan Banjar Dinas. Mundukkunci dan sebelah utara BD.Gunungsari dan daerahnya berbukit-bukit serta terdapat sarana ibadah umat Hindu yaitu Pura Bukit yang disungsung oleh Krama Adat Mundukkunci.
Banjar Dinas Batucandi terletak di sebelah barat daya Banjar Dinas Mundukkunci dan berbatasan langsung dengan Banjar Dinas Wita Jati Desa Selat, wilayah Banjar Dinas Batucandi terdiiri dari tanah yang tandus dan berbatuan sehingga penduduk setempat mempungsikan tanah perkebunannya dengan tanaman mangga dan pisang.Pada bulan Januari tahun 2010 kedua Banjar Dinas Persiapan itu diresmikan menjadi Banjar Dinas Depinitif.
Dusun Gunungsari  terletak paling selatan. Dusun ini dulu adalah bekas tanah orang –orang Mundukkunci yang terbuang, kemudian datang orang-orang dari Karangasem, Mengwi, Badung, Asah Gobleg Taman, Padang Bulia, Muncan dan sebagainya yang menempati daerah tersebut.Dusun ini sebelum tahun 1965 bernama Asah Tegallinggah.Asah artinya rata. Pada tahun ini juga dibangun tiga buah pura : Pura Subak ,Pura Merajapati,Pura Dalem yang odalannya jatuh pada tiap Purnama Kapat (setahun sekali) dan dipugar serta dipelaspas pada tangga 24 April 2001 dan segera dibangun Pura Kahyangan Tiga dalam rangka mendirikan desa Adat Gunungsari.
 
Share Post :