Sejarah Desa Wanagiri Kecamatan Sukasada Kabupaten Buleleng

  • Admin Sukasada
  • 26 September 2018
  • Dibaca: 69 Pengunjung

Menurut cerita orang terdahulu, Desa Wanagiri dibentuk pada tahun 1973, yang merupakan penggabungan dari tiga dusun yaitu dusun Alas Ambengan termasuk wilayah Ambengan, Dusun Yeh Ketipat termasuk wilayah Desa Giitgit, dan Dusun Asah Panji termasuk wilayah Desa Panji. Sebelum Gunung Agung meletus tahun 1963 perkebunan masyarakat Desa Wanagiri merupakan kawasan hutan belantara, pada waktu itu penduduk Dusun Asah Panji kurang lebih 10 orang penghuni. Kesepuluh orang tersebut menemukan wilayah ini sebagai perkebunan kopi, sehingga untuk memudahkan urusan admiistrasi mereka membuka jalan setapak ke Desa Panji.

Dusun Alas Ambengan juga sebelumnya merupakan hutan belantara yang banyak padang ilalang sehingga disebut Alas Ambengan yang berarti hutan alang-alang.  Setelah penduduk merabas hutan dan mengembangkan perkebunan kopi, serta membuat tempat tinggal, dan membuka jalan setapak yang menghubungkan  dusun alas aambengan dengan Desa Gitgit, lama kelamaan dusun ini membentuk dusun sendiri yaitu dusun Alas Ambengan yang termasuk wilayah desa Ambengan. Pada tanggal 1 Desember 1988 dengan kesepakatan bersama Dusun Alas Ambengan diganti menjadi Dusn Bhuanasari sesuai SK Bupati Nomor : 10 Tahun 1989 tanggal 12 januari 1989.

Dusun Yeh Ketipat diambil dari cerita perjalanan Putra Ni Luh Pasek yang merupakan selir raja kelungkung (Dalem Segening) abad 16. Ni Luh Pasek mempunyai seorang Putra yang sakti yang bernama "KI BARAK PANJI". Ki Barak Panji dan Ni Luh Pasek diperintahkan oleh raja untuk kembali ke tanah asalnya yaitu Den Bukit, yang di dampingi oleh dua punakawannya yang bernama Ki Dosot dan KI Dumpiung serta 40 orang pengikutnya.Dalam perjalanannya itu mereka melewati wilayah yang bernama batu mejan, isana mereka merasa lapar yang kemudian sepakat untuk membuka bekalnya berupa ketupat. Usai makan mereka kehausan, namun tak ada air yang tersisa, maka Ki Barak mengambil kerisnya yang kemudian ditancapkan ke tanah, dan keluarlah air suci yang dikenal dengan "TIRTA KETIPAT", dari sinilah palemahannya disebut Yeh Ketipat. Pada saat itu Yeh ketipat di huni oleh 3 orang yaitu: Pan Reken, Pan Kandi dan I Gusti Nyoman Sempidi. Lama kelamaan penduduk di Yeh Ketipat semakin banyak sampai mencapai 15 KK, maka anggota tersebut sepakat membentuk Dusun yang pertama kali di pimpin oleh I Gusti Nyoman Sempidi dan termasuk wilayah Desa Gitgit. 

Karena ketiga wilayah tersebut jumlah penduduknya semakan banyak dan pada saat pengurusan administrasi sangat sulit, ketiga dusun tersebut sepakat untuk membentuk Desa baru.  Masing-masing Dusun mengajukan nama calon desa antara lain:

  1. Desa Warnasari, dengan pertimbangan bahwa yang mendiami desa ini adalah campuran (pendatang) dari berbagai daerah/kabupaten dan berbagai kasta yang berbeda.
  2. Desa Catursari, dengan pertimbangan bahwa yang mendiami desa ini adalah kasta yang berbeda seperti : Brahmana, Ksatria, Waisya dan sudra
  3. Desa Wanagiri dengan pertimbngan karena desa ini lokasinya di daerah pegunungan kawasan hutan belantara dengan pengertian "Wana" artinya hutan atau alas (Bahasa Bali) "Giri" artinya Gunung (bukit).

Ketiga nama calon desa tersebut di ajukan ketingkat kecamatan dari kecamatan ke tingkat kabupaten dan akhirnya di setujui salah satu dari ketiga nama desa tersebut yaitu "DESA WANAGIRI" dan yang menjadi perbekel pertama Desa Wanagiri adalah I Gede Mas Arta.  Adapun perbekel yang pernah menjabat dari tahun 1973 adalah sebagai berikut:

  1. I Gede Mas Arta (Tahun 1973 s.d tahun 1975)
  2. I Gusti Ngurah Agung Arnawa (Pjs. Tahun 1975 s.d 1976), Pejabat sahnya tahun 1977 s.d 1982
  3. I Gusti Made Raina (Pjs. tahun 1983) pejabat sahnya tahun 1984 s.d 2002
  4. I Wayan Gumiasa, SE. (tahun 2002 s.d 2007)
  5. I Gede Widi (Pjs tahun 2007)
  6. Ir. Made Raksa (Tahun 2007 s.d 2013)
  7. I Wayan Gumiasa, Se (Tahun 2013 s.d 2019)

Demikian sejarah singkat tentang berdirinya Desa Wanagiri yang sudah barang tentu perlu penyempurnakan karena kurangnya data penunjang dan mohon maaf atas segala kekurangannya.

Sumber : http://wanagiri-buleleng.desa.id/index.php/first/artikel/2

Share Post :