Sejarah Singkat Desa Pakraman Pancasari

  • Admin Sukasada
  • 26 September 2018
  • Dibaca: 32 Pengunjung

Terbentuknya Desa Pancasari bermula pada tahun 1912, atas izin punggawa Distrik Sukasada ( I Gusti Bagus Cakra) untuk membuka lahan pemukiman baru, maka berangkatlah empat kepala keluarga asal Desa Padang Bulia menuju Kapelemahan Gitgit, tepatnya sekarang di Desa Pancasari. Keempat kepala keluarga tersebut yaitu I Gusti Ketut Jen, I Gusti Ketut Panji, I Gusti Kompyang Batam, dan I Gusti Ketut Las. Untuk membantu kelancaran dalam pembukaan lahan pemukiman tersebut, tidak lama kemudian menyusullah I Gusti Made Penglat, Pan Nyoman Kasel, Pan Nengah Triug, Pan Wardi dan juga warga Taman Desa Padang Bulia dan dari Desa Pegayaman. Pemukiman baru tersebut kemudian diberi nama Banjar Sari, oleh karena pada saat itu Banjar Sari merupakan wilayah Desa Gitgit, maka Banjar Sari dipimpin oleh seorang kelian banjar  yaitu I Gusti Ketut Jen. Masa pemerintahannya dimulai dari tahun 1912-1919. Beliau dipilih karena memiliki kekuatan fisik dan mental dalam menghadapi kekuatan alam pada saat itu seperti bencana banjir, tanah longsor dan juga binatang-binatang buas yang mengancam kehidupan warga.

            Tahun 1919-1920 jabatan kelian banjar digantikan oleh I Gusti Made Endra. Kepemimpinannya telah menunjukkan adanya perubahan perkembangan perekonomian masyarakat khususnya di bidang pertanian. Kemajuan dalam bidang pertanian tersebut sudah barang tentu mengundang para pedagang ” Pengalu”  untuk menjual dan membeli ataupun mengadakan tukar-menukar atas barang yang dimiliki dan yang diperlukan masing-masing. Karena merupakan pemukiman baru, sarana dan prasarana di Banjar  Sari tidaklah begitu bagus, seperti misalnya jalanan yang selalu becek dan berlumpur ketika hujan. Keadaan tersebut menyebabkan para pedagang atau pengalu menyebut Banjar Sari dengan nama Banjar Benyah.

            Pada tahun 1920 jabatan kelian banjar dipegang oleh I Gusti Made Murka. Beliau merupakan seorang pejuang kemerdekaan RI dan gugur dalam melawan penjajah Belanda bersama kakak kandungnya I Gusti Ketut Teja. Tahun 1942-1947 jabatan kelian banjar dipegang oleh Pan Nadi Rasma. Pada tahun 1947-1948 jabatan kelian banjar dipegang oleh I Gusti Kompyang Singaraja. Pada saat kepemimpinannya keadaan masyarakat tidak stabil sehingga Banjar Benyah dipimpin oleh dua orang pemimpin antara lain bagian utara dipegang oleh Pan Widia Merta selama 11,5 bulan kemudian diteruskan oleh Pan Nila selama 16 tahun. Sedangkan dibagian selatan dipimpin oleh Nengah Raja yang kemudian dilanjutkan oleh Wayan Sukertha. Melihat keadaan seperti tersebut maka timbullah ide untuk memperjuangkan Banjar Benyah menjadi desa mandiri terlepas dari bagian wilayah Desa Gitgit.

            Atas perjuangan I Gusti Nyoman Sadra dan Pan Nila, maka pada tahun 1954, Banjar Benyah diberikan izin untuk berdiri sendiri menjadi Desa Benyah. Jabatan kelian Manca pada saat itu dipegang oleh I Gusti Nyoman Sadra sampai dengan tahun 1957 kemudian dari tahun 1957-1965 jabatan kelian Manca dipegang oleh I Nyoman Koyan. Dari tahun 1965-1995 jabatan kelian Manca dipegang oleh I Wayan Widia selama setahun 6 bulan. Selanjutnya istilah Manca  diganti dengan kaprebekelan dimana pada saat itu I Wayan Widia langsung dipilih sebagai pimpinan. Atas perjuangan I Wayan Widia, pada tahun 1966 nama Desa Benyah diganti oleh pemerintah menjadi Desa Pancasari. Adanya ide mengganti nama Desa Benyah menjadi Desa Pancasari disebabkan karena masyarakat sering mengalami malapetaka seperti banjir, longsor dan hujan badai yang sangat dahsyat dan banyak menimbulkan korban jiwa maupun harta benda.

            Kepanikan masyarakat saat itu menjadi inisiatif para penglingsir desa untuk mengadakan musyawarah karena desa terus mengalami kehancuran (benyah). Maka saat musyawarah itu diusulkan beberapa nama desa antara lain Desa Karma Pala, Desa Darma Saba, Desa Darma Laksana dan lain-lain, namun dari sekian nama tersebut tidak satupun yang dimufakati. Akhirnya oleh bapak I Wayan Widia yang secara gaib telah mendapat pawisik, bahwa nama Desa Benyah haruslah diganti namanya menjadi Desa Pancasari. Keesokan harinya pawisik tersebut disampaikan pada paruman desa. Nama Pancasari dapat diterima menjadi nama desa, dengan suatu pertimbangan tiga banjar yang ada, yaitu Banjaran Wates, Banjaran Kelod, dan Banjaran Sari ditambah dua banjaran lagi yaitu Banjaran Kaja dan Banjaran Kauh sehingga menjadi lima Banjaran Sari.

            Nama banjaran tersebut kemudian mengalami perubahan menjadi Banjar Sari Kelod, Banjar Sari Kangin (dulu banjaran Sari), Banjar Sari Kauh, Banjar Sari Kaja dan Banjar Sari Tengah (dulu banjaran Wates). Kelima banjar tersebut mewujudkan kelengkapan dari lima arah mata angin yang di dalam ajaran agama Hindu, yang bertujuan untuk mencapai keseimbangan kehidupan antara Bhuana Agung dan Bhuana Alit ( Nyoman Patia, wawancara Kamis 2 Mei 2013)

Sumber : http://informasiinyomanyudiantara.blogspot.com/2016/10/sejarah-singkat-desa-pakraman-pancasari.html

Share Post :